SURVEYOR BATAM

Beranda » Uncategorized » Interpretasi Foto Udara

Interpretasi Foto Udara

Agustus 2016
M S S R K J S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Kategori

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya

Photo proyek

Station..

Kingfisher (Alcedo atthis)

Supermoon setting

Lebih Banyak Foto

Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu objek serta keadaan disekitarnya melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil pemotretan). Salah satu bagian dari pekerjaan fotogrametri adalah interpretasi foto udara. Oleh karena itu dengan adanya praktikum tentang interpretasi foto udara  dan pembuatan peta tutupan lahan kali ini diharapkan mahasiswa Program Studi Teknik Geodesi mampu melakukan interpretasi foto udara dengan menggunakan prinsip-prinsip interpretasi yang benar serta dilanjutkan dengan pembuatan peta tutupan lahan. Adapun prinsip yang digunakan dalam interpretasi foto terdiri dari 7 (tujuh) kunci interpretasi yang meliputi : bentuk, ukuran, pola, rona, bayangan, tekstur, dan lokasi. Dengan beracuan pada 7 (tujuh) kunci tersebut maka kita dapat mengidentifikasi dengan jelas objek yang sebenarnya.

Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini. Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek.

Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek. Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan  oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang. Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer. Salah satu alat yang dapat digunakan dalam interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.

Didalam menginterpretasikan suatu foto udara diperlukan pertimbangan pada karakteristik dasar citra foto udara.Dan dapat dilakukan dengan dua cara yakni cara visual atau manual dan pendekatan digital.Keduanya mempunyai prinsip yang hampir sama. Pada cara digital hal yang diupayakan antara lain agar interpretasi lebih pasti dengan memperlakukan data secara kuantitatif. Pendekatan secara digital mendasarkan pada nilai spektral perpixel dimana tingkat abstraksinya lebih rendah dibandingkan dengan cara manual. Dalam melakukan interpretasi  suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah  kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek – objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu :

Bentuk

Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citrta foto.

Ukuran

Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai dengan skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat.

Pola

Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya.

Rona

Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek.

Bayangan

Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi.

Tekstur

Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak.

Lokasi

Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi.

II. Analisis Geomorfologi dengan Foto Udara

Penginderaan jauh berkembang sangat pesat, salah satunya adalah pengunaan foto udara sebagai pengumpul data dan pemberi informasi yang tepat, cepat dan akurat dalam mempelajari geologi. Foto udara digunakan melakukan analisis geomorfologi, untuk mempelajari bentuk-bentuk lahan dan bentang alam.

Analisis geomorfologi yang dilakukan pada dasarnya berkaitan dalam menentukan tingkat pengaruh struktur dan litologi pada suatu batuan yang berkembang menjadi morfologi. Analisis tersebut meliputi analisis pola penyaluran, bentuk lahan, pola patahan dan rona. Analisis pola penyaluran merupakan langkah yang paling utama dalam mempelajari geomorfologi, dengan memperhatikan tekstur dari pola penyaluran tersebut. Namun, analisis-analisis lain juga mempunyai peranan yang penting dalam mendukung interpretasi geomorfologi secara keseluruhan.

Pengetahuan geomorfologi dan analisis bentuk lahan dapat diaplikasikan pada pelbagai bidang, misalnya aplikasi geomorfologi pada bidang pertanian, khususnya ilmu tanah dan pelbagai bidang teknik sipil atau kontruksi bangunan. Proses geomorfik merupakan faktor sangat penting yang menentukan proses pembentukan dan perkembangan tanah. Batas unit sebaran jenis tanah di lapang sering sejajar dengan batas unit bentuk lahan, sehingga hasil analisis suatu bentuk lahan sangat membantu dalam pekerjaan survai tanah dan evaluasi kesesuaian lahan, khususnya dalam hal pembatasan unit tanah atau lahan untuk kegunaan tertentu.

Proses geomorfik sangat dipengaruhi oleh struktur geologi kerak bumi pada landform tersebut berada. Bukti terjadinya perubahan atau proses geologis itu tampak atau membekas (in print) pada landform yang terbentuk oleh proses itu. Proses geologis yang telah dan sedang terjadi yang dapat dikenali dari kharakteristik landform dan merupakan informasi penting bagi perencanaan atau desain pembuatan konstruksi jalan, jembatan, bendungan dan sebagainya.

III. Tahapan Pelaksanaan Foto Udara

  • Tahapan Umum
  • Menentukan Peta dasar
  • Menentukan Peta kerja
  • Menentukan Prosedur analisa manual dan otomatis
  • Menentukan Str Geospasial untuk (Industri, Perencanaan, sesuai tujuan pemetaan)
  • Menentukan Akurasi
  • Kriteria Akurasi Horisontal…
  • Kriteria Akurasi Vertikal…
  • Kriteria Akurasi dalam Labeling…
  • Menentukan data – data yang dibutuhkan
  • Peta dan Skala basis data
  • Model data dan Model Permukaan Medan (tentukan model yang paling sesuai dengan penelitian )
  • Kontur digital
  • Mass Points
  • Breaklines
  • Triangulated Irregular Netorks
  • Digital elevation Models (DEMs)
  • Akurasi Vertikal
  • Akurasi Vertikal sebagi vungsi Akurasi Horisontal
  • Akurasi vertikal sebagai fungsi dari Resolusi Horisontal
  • Menentukan:
  • Tipe, ukuran dan buffer file citra
  • Area pemetaan
  • Cross section/Penampang melintang
  • Struktur Hidrolik
  • Format Data
  • Elevasi Data yang berkaitan dengan aspek hidrologis
  • Titik Kontrol
  • Menentukan sistem referensi spasial
  • Menentukan Kontrol horisontal
  • Menentukan kontrol vertikal
  • Survey lapangan
  • Survey kontrol fotogrametrik
  • Survey cross section
  • Survey checkpoint
  • Survey pencatatan data lapangan pendudung
  • Survey Fotogrametrik
  • Survey fotoudara
  • Survey Triangulasi
  • Georeferencing langsung
  • Ekstraksi informasi fotogrametrik
  • Cross section
  • Kontur
  • Aspek planimetrik lainnya
  • Kontrol Kualitas
  • Membarui Informasi Banjir (terhadap space-time)
  • Frekuensi banjir
  • Tahap bajir
  • Membarui Peta Banjir
  • Membuat Representasi digital 3D Permukaan Lahan
  • Membuat Representasi digital 3D Permukaan Banjir (ini kunci yang menentukan keberhasilan simulasi )
  • Manajement Data
  • Analisa Limitasi dan Oportuniti dari studi yang lakukan

IV. Pemetaan Kerentanan Gerakan Tanah Dengan Analisis SIG Melalui Foto Udara

Parameter penggunaan lahan dilakukan analisis berdasarkan pengelolaan (vegetasi), beban gaya berat, serta porusivitas air dalam setiap jenis penggunaan lahan. Dari analisis yang dihasilkan bahwa jenis penggunaan lahan pemukiman merupakan jenis dari parameter dari gerakan tanah yang mempunyai kepekaan tinggi hal tersebut dikarenakan tidak adanya pengelolaan (vegetasi) yang efektif,  mempunyai gaya beban yang berat, serta mempunyai tingkat porusivitas air ke dalam tanah rendah. Jenis penggunaan lahan yang kedua yang mempunyai kepekaan sedang terhadap gerakan tanah adalah lahan sawah. Sawah mempunyai pengelolaan yang baik akan tetapi tingkat porusivitas air ke dalam tanah sangat rendah sehingga beban menjadi lebih berat. Jenis pengunaan lahan yang mempunyai kepekaan rendah adalah lahan kebun, ladang, lahan kering. Penggunaan lahan-penggunaan lahan tersebut mempunyai pengelolaan yang sedang dengan beban yang tidak terlalu berat dan kemampuan air untuk meresap kedalam tanah mudah. Jenis parameter penggunaan lahan yang memiliki kepekaan sangat rendah yaitu berupa lahan hutan. Hutan mempunyai pengelolaan vegetasi yang baik, dengan jenis tanah yang relative stabil dan porusivitas air ke dalam tanah sangat baik.

Dari peta yang dihasilkan akan memberikan sebaran gambaran yang telah terdefinisikan jenis penggunaan lahan dan juga nilai kepekaan terhadap gerakan tanah. Nilai ini disebut juga suatu skor. Setiap jenis penggunaan lahan memiliki skor yang berbeda tergantung akan kemudahan terhadap gerakan tanah. Parameter penggunaan lahan ini merupakan faktor penentu terakhir dalam menentukan proses gerakan tanah, sehingga dalam penelitian ini agar diperoleh nilai yang tertimbang setiap parameter dikalikan dengan bobot kepentingan sesuai dengan urutan kepekaan setiap parameter.

Parameter kedua proses gerakan tanah adalah kemiringan lereng. Pengolahan data spasial berupa kemiringan diperoleh dari data kuantitatif yang dirubah menjadi data spasial yang bersifat kualitatif. Untuk mendapatkan poligon peta kemiringan lereng garis kontur dirubah menjadi TIN (kenampakan 3 Dimensional) kemudian diubah menjadi grid-grid dan dilakukan reklasifikasi. Setiap pixel dalam grid memberikan nilai sesuai dengan ketinggian tempat.

Kemiringan lereng merupakan salah satu parameter pemicu terjadinya gerakan tanah. Hal tersebut karena semakin terjal suatu lereng material yang ada diatas permukaan akan semakin mudah untuk jatuh/tergelincir ke bawah karena adanya gaya grafitasi. Pengkelasan kemiringan lereng mendasarkan pada kemudahan untuk menjadi gerakan tanah, semakin tinggi kemiringan kelas lereng akan semakin besar. Bobot kepentingan yang diberikan pada parameter kemiringan lereng ini adalah 2 atau tingkat sedang.

Parameter yang ketiga dalam kaitannya dengan gerakan tanah adalah ketebalan tanah. Ketebalan tanah ini dapat dilakukan pengukuran dengan cara tidak langsung, yaitu dengan mengetahui jenis tanah dan kemiringan lerengnya. Kemiringan lereng yang semaki landai maka tanah akan semakin landai karena adanya pegendapan, agradasi tanah dari daerah diatasnya. Setiap kelas ketebalan tanah diberikan niliai/skor sesuai dengan kemudahanya untuk menjadi gerakan tanah. Nilai bobot untuk paramater ketebalan tanah ini tergolong yang terkahir seperti parameter penggunaan lahan dan diberikan nilai 1 sehingga pengaruhnya terhadap gerakan tanah ringan.

Parameter terbesar yang sangat menentukan proses gerakan tanah adalah kondisi stratigrafi (tipologi kerentanan lereng), parameter ini tidak lepas dari kondisi geologi. Pengkelasan  pada parameter stratigrafi ini didasarkan pada kriteria-kriteria adanya bidang lincir/slicing pada permukaan, adanya perlapisan yang terdapat tanah diatasnya dengan kondisi yang tidak stabil, serta kenampakan lereng keluar. Bobot kepentingan yang diberikan pada parameter stratigrafi ini adalah 3 yaitu nilai paling tinggi dari semua parameter yang memicu terjadinya gerakan tanah. Untuk mendapatkan peta gerakan tanah peta peta tersebut dilakukan tumpang susun (overlay) serta dilakukan query, perhitungan dari jumlah skor dikalikan dengan bobot kepentingan untuk mendapatkan nilai/hasil yang tertimbang.

Komponen yang ada di dalam SIG mencakup tiga hal, yaitu input, proses, dan output. Input dapat berupa bahan data berupa citra/foto udara dan data primer dari lapangan yang dilakukan intepretasi serta digitasi, dalam penelitian ini digunakan diqityzing on screen. Proses dalam SIG mencakup suatu teknik query dari parameter-parameter input yang dilakukan tumpang susun (overlay). Untuk melakukan analisis pada peta terlebih dahulu dilakukan penyamaan koordinat serta sistem proyeksi setiap parameter peta. Di dalam penelitian ini digunakan koordinat UTM (Universal Trade Mercator) dengan tujuan agar dalam perhitungan luasan didapatkan nilai yang akurat. Pada query dilakukan suatu perhitungan data baik berupa penjumlahan, pengurangan, pembagian serta perkalian nilai dari peta. Sebagai output yaitu berupa data peta yang disajikan guna tujuan tertentu.

Metode yang digunakan dalam analisis SIG mengenai kerentanan terhadap bahaya gerakan tanah di wilayah CAG karangsambung ini adalah metode tidak langsung, yaitu suatu metode yang digunakan dengan malalui beberapa pendekatan berdasarkan parameter yang mendukung. Parameter-parameter tersebut antara lain : tipologi lereng rentan, jenis penggunaan lahan, kemiringan lereng dan ketebalan tanah diberikan suatu nilai (skor) sesuai dengan tingkat kerentanannya.

V. Manfaat Foto Udara

Salah satu bentuk pengindraan jauh yang paling umum, ekonomis dan banyak digunakan adalah foto udara. Manfaat utama foto udara bila dibandingkan dengan pengamatan di lapangan meliputi beberapa hal sebagai berikut :

Meningkatkan Titik Keuntungan

Fotografi udara memungkinkan untuk mengamati gambar yang besar yang di dalamnya terdapat objek-objek yang diinginkan. Foto udara memperlihatkan kenampakan menyeluruh di mana semua yang ada di muka bumi yang dapat diamati dan direkam secara serentak. Namun informasi yang diperoleh bagi tiap orang yang mengamatinya akan berbeda tergantung dari keperluannya masing-masing. Hidrologis akan memusatkan perhatiannya pada tubuh air permukaan, geologis pada struktur batuan dan geomorfologinya, pakar pertanian pada jenis tanah dan tanamannya, dan sebagainya.

– Kemampuan untuk Menghentikan Kegiatan

Tidak seperti mata manusia, foto dapat memberikan suatu gambaran kegiatan yang terhenti atas kondisi yang bersifat dinamik. Foto udara sangat berguna untuk mempelajari fenomena yang dinamik dari banjir, populasi binatang liar yang bergerak, lalu lintas, tumpahan minyak, dan kebakaran hutan.

– Catatan Permanen

Foto udara pada dasarnya merupakan rekaman permanen atas kondisi yang ada. Rekaman tersebut dapat dipelajari dengan lebih enak, lebih banyak di kantor. Satu citra dapat dipelajari banyak pengguna. Foto udara juga dapat sebagai pembanding suatu data sejenis yang diperoleh pada waktu sebelumnya, sehingga perubahan sesuai dengan berlalunya waktu dapat dipantau.

– Kepekaan Spektral Diperlebar

Film dapat mengindra dan merekam pada rentang panjang gelombang sebesar dua kali lebih lebar daripada kepekaan mata manusia (0,3 – 0,9 mm dibandingkan 0,4 – 0,7 mm). Dengan fotografi, panjang gelombang ultraviolet dan inframerah pantulan yang tidak tampak dapat dideteksi, kemudian direkam dalam bentuk citra yang tampak, sehingga kita bisa melihat fenomena yang tidak tampak oleh mata.

– Meningkatkan Resolusi Spasial dan Ketelitian Geometrik

Melalui pemilihan yang tepat atas kamera, film, dan parameter penerbangan, kita dapat merekam data keruangan yang lebih rinci pada foto dibandingkan yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Data tersebut tersedia untuk kita dengan mengamati foto udara tersebut dibantu dengan pembesaran. Dengan data rujukan lapangan yang tepat, kita juga dapat memperoleh pengukuran teliti atas posisi, jarak, arah, luas, ketinggian, volume, dan lereng berdasarkan foto udara. Sesungguhnya, kebanyakan peta planimetrik dan peta topografik yang ada sekarang dihasilkan dengan menggunakan pengukuran-pengukuran dari foto udara.

VI. Penggunaan SRTM dan Aster 3B VNIR Untuk Analisis Geomorfologi Tektonik

Dengan adanya perkembangan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (geographic information system) yang pesat saat ini, analisis spasial wilayah dalam hubungannya dengan bidang ilmu kebumian seperti geologi, geomorfologi, tataguna lahan dan lain-lainnya mudah dilakukan. Penggabungan atau integrasi hasil interpretasi dan data sekunder lainnya dapat dilakukan dengan cepat dan akurat dengan bantuan teknik sistem informasi geografis. Sajian dalam SIG dapat berupa manipulasi data yang berupa spasial serta data yang berupa atribut, serta mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan memodelkan suatu 3D permukaan sebagai DEM (Digital Elevation Model ;, Model Digital Ketinggian) ; DTM (Digital Terrain model : Model Digital Permukaan) atau TIN (Triangular Irregular Network ; Jaringan Bersegitiga yang tidak beraturan). Berbagai kepentingan yang berkaitan dengan bidang spasial kebumian dapat dianalisa dan dimodelkan.

Secara umum geomorfologi merupakan ilmu yang membicarakn mengenai konfigurasi permukaan yang dalam hal ini tidak terlepas bahasan kita terkait dengan bentuklahan. Tenaga geomorfologi di bagi menjadi 2 yaitu tenaga endogen dan tenaga eksogen. Salah satu tenaga endogen akan menghasilkan suatu bentuklahan struktural dimana dalam sub bentuklahannya merupakan patahan/ blok patahan.

Penggunaan data-data spasial dalam penelitian ini menggunakan bahan data berupa citra SRTM, citra aster, serta peta dasar digital. Data srtm dilakukan peng-konversian ke dalam bentuk vektor yaitu berupa data kontur dengan interval kontur pada penelitian ini sebesar 3 meter, hal ini dilakukan guna pembuatan peta TIN (triangular irregular network) sehingga konfigurasi permukaan dengan kesan 3 dimensional dapat terlihat dengan jelas. Kesan topografi ini dapat mempermudah untuk mengetahui jalur sesar utama serta untuk mengetahui pola-pola aliran yang terbentuk pada daerah tersebut.

Data raster berupa citra aster dilakukan pengkoreksian terlebih dahulu sebelum dilakukan intepretasi dan analisis, koreksi tersebut meliputi koreksi geometrik dan koreksi radiometrik. Koreksi geometrik dimaksudkan agar citra sesuai dengan kondisi di permukaan, sedangkan koreksi radiometrik dimaksudkan guna piksel-piksel dalam citra bebas dari pengaruh awan pada saat perekaman data, sehingga data dapat digunakan untuk  intepretasi lebih lanjut. Saluran citra aster yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan band 3B, VNIR (Visible and Near Infrared) dengan panjang gelombang 0, 78 – 0, 86 mm dengan resolusi spasial 30 meter, pemilihan saluran ini dikarenakan pada band 3B citra aster memiliki sudut penyiaman 27, 6 ° untuk mempertegas kenampakan permukaan maka digunakan penajaman citra linier 2%, kesan-kesan topografis lebih terlihat jelas sehingga intepretasi mengenai sesar serta pola aliran pada sesar lembang dapat dengan mudah dilakukan.

Pembuatan formula untuk mengetahui suatu kelurusan pun dapat dilakukan baik menggunakan aplikasi dari grid, dimana nilai piksel grid dirubah secara seragam. Permasalah yang sering dihadapi bahwa piksel grid mempunyai resolusi spasial yang sangat besar, sehingga diperlukan pembuatan data grid berdasarkan meta data dari citra SRTM. Hal ini juga terbentur dengan kemampuan komputer dalam mengolahnya. Ketika pembuatan data kontur dengan interval 0,5 meter diharapkan dapat memberikan output piksel DEM yang kecil dengan resolusi spasial memadai untuk mendapatkan kedetilan kelurusan. Data citra aster pun dapat dilakukan suatu analisis dengan beberapa pemodelan. Penggunaan formula untuk mengetahui kondisi permukaan guna mempertegas kenampakan permukaan salah satunya digunakan filter, menggabungkan beberapa parameter hasil klasifikasi. Kenampakan kelurusan ini hanya sebatas mengetahui keberadaan patahan-patahan (mikro) dan masih perlu dilakukan cross cek dengan data pendukung lainnya. Untuk mengetahui keaktifan sesar maka masih dilakukan survei dan pengukuran lapangan dengan beberapa metoda.